Keluarga manusia

Telah kutemukan keceriaan sang fana.
Yang setiap detik mendekapku seperti selimut hijau tua saat jasmaniku tak bersemangat.

Ada harapan timbul yang menarik tali kepedihan di kedua sisi wajah menghapus coretan coretan usang yang sama sama kita tulis dahulu dimuka kita.

Lalu segala kerinduan yang dibawa tawa penuh kehangatan menciptakan simpul seperti tali sepatu sekolahku dahulu.

Dan kita seolah digerakan angin terbang sambil berlenggak lenggok di tengah ruang cinta menari tarian surga yang diiringi tawa.

Hingga nanti sang semesta mengumpulkan kita pada taman yang dirindukan.

Bercengkrama bersama bunga yang menari saat senjanya yang abadi.

20:24, Mg 19-10-2014

Tuhan dan Cinta

Pada udaraNya sore hari kian mendayu
Meringkas masa senja dalam ringkihan dua waktu.

Betapa,
Tak ku dapati kembali tawa pada tiap-tiap bunga di taman pinggir sungai..
Kutemukan ia pada wujud aslinya yang tanpa warna.

Lalu,
Pagi menanti yang tak kudapati ceritanya yang lalu, yang tak bosan ku dengar.

Kekasih..

Tuhan lah paling setia..

Puisi pengungsi

Saat ku mulai lelah terjaga dari kisah sendu dunia
Menerawang jingganya awan menuju peristirahatan..

Kupikul pilu yang mengikat kaki
Menelisik dari setiap pangkal sendi
Tentang ribuan duka terekam
pun tak satu bagian ku lewat kan..

Masih rapi tetap tersimpan
jentik jemari berpelukan,
duduk berdampingan melamuni esok malam..

Untuknya, sang pemilik senyum harapan
dan senja yang kan datang..
tegap berdiri menantang..
dunia..

Bogor, 30 juni 2012

Bahagia atau bermakna?

TIDAK ADA MISTERI dalam kebahagiaan.

Orang orang yang tak bahagia hampir sama semuanya.

beberapa telah terluka sejak lama. beberapa berusaha menyangkalnya.

beberapa coba menutupinya dengan keangkuhan.

dan beberapa menyalakan api cinta lalu memadamkannya dengan cemoohan,

atau dengan ketidakpedulian yang terus melekat.

Atau sebaliknya, merekalah yang melekat pada luka itu sehingga masa lalu selalu menyelubungi kehidupannya.

Orang yang bahagia tidak menoleh ke belakang.

Tidak juga melihat ke depan. Ia hanya hidup di dalam hari ini.

 

Tetapi ada juga kesulitan.

Masa kini tidak pernah mampu melahirkan satu hal : makna.

Arah kebahagiaan dan makna tidak sama.

Untuk menemukan kebahagiaan,

seseorang hanya harus hidup pada satu waktu – ia hanya harus hidup bagi waktu itu saja.

namun, jika ia menghendaki sekian makna dari mimpinya, rahasianya, kehidupannya,

ia harus menghidupkan kembali masa lalunya. Segelap apapun itu.

Ia juga harus hidup dengan masa depan. Betapapun tidak menentunya.

Jadi, alam mempermainkan kebahagiaan dan makna di depan kita hanya agar kita bisa memilih satu diantara keduanya.

 

Bagi diriku sendiri, aku selalu memilih makna.

 

 

dikutip dari novel Interpretation of Murder karya Jad Rubenfeld

Temukan Keabadian Di Senjanya

Kau berkata padaku, ‘temukan dalam senjanya sesuatu yang abadi sayangku’ lalu aku mencoba meraba-raba apa yang kau maksud, aku mencoba mencari, mungkin disini masih tersisa potongan makna yang tersirat dalam kalimatmu, namun waktu mengembalikanku dan berkata, ‘aku belum menemukan keabadian dalam senjanya yang indah, sebagaimana dalam paginya yang memancarkan warna kemerahan di ufuk timur,

duhai sayang, dan aku masih mencari cara disini, berharap menemukan keindahan dalam keabadian, lewat lapar dan dahaga tubuhku, lewat sakit dan sunyinya jalan-jalan pengembaraan,

duhai ini ladang yang siap meneteskan darah, ini kenyataan hidup yang berkelindan dan aku dengan pengembaraanku sedemikian merasakannya, meracau dengan diriku sendiri, dan berkata ‘aku tak tahu, diriku penuh disini dengan beragam dunia, dan tak menemukan pikiranku membaca dengan jernih segala persoalan hidup’

duhai kekasih, dan aku masih berdiri disini dari balik jendela ruangku, mengamati malam yang sebentar lagi datang, mengamati matahari yang ‘kan beralih ke tempat lain, dan meninggalkanku dalam wajah malam yang menghitam, sampai akhirnya sang senja benar-benar menghilang dari hadapan wajah hidup, dan tak kukatakan sepatah kata padanya, kubiarkan itu berlalu dalam sunyi’

lalu hidup menemukanku dalam ladang ladang kebisuan yang mencekam, dan kugauli jiwa-jiwa suci, berharap ilmuNya terhampar di hadapanku,

Duhai Tuhan, kuingin bibirMu menggumamkan keindahan di telingaku, menjawab kenyataan hidup yang kualami . . .

( dikutip dari : rumput rumput tak mau kering [ Arini Hidajati ] )