Bahagia atau bermakna?

TIDAK ADA MISTERI dalam kebahagiaan.

Orang orang yang tak bahagia hampir sama semuanya.

beberapa telah terluka sejak lama. beberapa berusaha menyangkalnya.

beberapa coba menutupinya dengan keangkuhan.

dan beberapa menyalakan api cinta lalu memadamkannya dengan cemoohan,

atau dengan ketidakpedulian yang terus melekat.

Atau sebaliknya, merekalah yang melekat pada luka itu sehingga masa lalu selalu menyelubungi kehidupannya.

Orang yang bahagia tidak menoleh ke belakang.

Tidak juga melihat ke depan. Ia hanya hidup di dalam hari ini.

 

Tetapi ada juga kesulitan.

Masa kini tidak pernah mampu melahirkan satu hal : makna.

Arah kebahagiaan dan makna tidak sama.

Untuk menemukan kebahagiaan,

seseorang hanya harus hidup pada satu waktu – ia hanya harus hidup bagi waktu itu saja.

namun, jika ia menghendaki sekian makna dari mimpinya, rahasianya, kehidupannya,

ia harus menghidupkan kembali masa lalunya. Segelap apapun itu.

Ia juga harus hidup dengan masa depan. Betapapun tidak menentunya.

Jadi, alam mempermainkan kebahagiaan dan makna di depan kita hanya agar kita bisa memilih satu diantara keduanya.

 

Bagi diriku sendiri, aku selalu memilih makna.

 

 

dikutip dari novel Interpretation of Murder karya Jad Rubenfeld

Iklan

Temukan Keabadian Di Senjanya

Kau berkata padaku, ‘temukan dalam senjanya sesuatu yang abadi sayangku’ lalu aku mencoba meraba-raba apa yang kau maksud, aku mencoba mencari, mungkin disini masih tersisa potongan makna yang tersirat dalam kalimatmu, namun waktu mengembalikanku dan berkata, ‘aku belum menemukan keabadian dalam senjanya yang indah, sebagaimana dalam paginya yang memancarkan warna kemerahan di ufuk timur,

duhai sayang, dan aku masih mencari cara disini, berharap menemukan keindahan dalam keabadian, lewat lapar dan dahaga tubuhku, lewat sakit dan sunyinya jalan-jalan pengembaraan,

duhai ini ladang yang siap meneteskan darah, ini kenyataan hidup yang berkelindan dan aku dengan pengembaraanku sedemikian merasakannya, meracau dengan diriku sendiri, dan berkata ‘aku tak tahu, diriku penuh disini dengan beragam dunia, dan tak menemukan pikiranku membaca dengan jernih segala persoalan hidup’

duhai kekasih, dan aku masih berdiri disini dari balik jendela ruangku, mengamati malam yang sebentar lagi datang, mengamati matahari yang ‘kan beralih ke tempat lain, dan meninggalkanku dalam wajah malam yang menghitam, sampai akhirnya sang senja benar-benar menghilang dari hadapan wajah hidup, dan tak kukatakan sepatah kata padanya, kubiarkan itu berlalu dalam sunyi’

lalu hidup menemukanku dalam ladang ladang kebisuan yang mencekam, dan kugauli jiwa-jiwa suci, berharap ilmuNya terhampar di hadapanku,

Duhai Tuhan, kuingin bibirMu menggumamkan keindahan di telingaku, menjawab kenyataan hidup yang kualami . . .

( dikutip dari : rumput rumput tak mau kering [ Arini Hidajati ] )

Secuil penantian di waktu malam

Sudah ku lewati senjanya yang berganti malam,
terhitung semenjak kau berikan senyum yang ranum padaku.

Ketika berpapasan..

Dan seminggu kemudian..
Telah kutemukan makna dari penantian panjang
Kan ku sapa dirimu,
Seperti saat ku menyapa bintang pertama di kala senja menghilang,
Seperti yang selalu ku katakan pada “mereka”, indah adanya…

Kini senjanya telah usai, menanti fajar pada pelaminannya..
Tak ku dapati senyum senyum yang lain dari bibirmu..
Menanti dan terus menanti, hingga semesta berkonspirasi untuk mempertemukan kita, dan cinta kita..

Hidup = seni fotografi

sore di loteng rumah sembari menikmati grimis  menjelang senja.

Teringat tentang seni fotografi di salah satu program kompas tv “klik abrian”

Saat materi terakhir yang ia beri, setelah ia menunjukan beberapa hasil foto yang ia dapat dari huntingnya..

Ia berkata: ” fotografi adalah bukanlah tentang teknologi canggih Ɣªήğ anda punya tetapi bagaimana anda mengkomposisikan objek anda dengan komposisi Ɣªήğ baik sehingga menhasilkan potongan potongan gambar Ɣªήğ indah, dan ingat foto adalah kepingan kepingan pandangan Ɣªήğ anda lihat”

saya fikir seharusnya kita bertindak seperti halnya dalam seni fotografi..

Pada akhirnya saya mengambil sebuah kesimpulan setelah mengalami ekstase setelah mendengar perkataan seorang Arbain.

Pada hakikatnya hidup bukanlah masalah materi Ɣªήğ anda miliki agar hidup kita bahagia , tetapi bagaimana kita mengkomposisikan bagian bagian Ɣªήğ kita miliki menjadi kepingan keharmonisan literatur hidup kita..

Bukan tentang apa Ɣªήğ kita inginkan tetapi tentang apa Ɣªήğ kita miliki sekarang, dengan otomatis anda selalu berfikir “Hari ini adalah hari saya, tak akan ada Ɣªήğ saya lewatkan dari bagian kehidupan sekarang, agar, saya tak akan memiliki rasa takut untuk menghadapi penyesalan..