Tuhan dan Cinta

Pada udaraNya sore hari kian mendayu
Meringkas masa senja dalam ringkihan dua waktu.

Betapa,
Tak ku dapati kembali tawa pada tiap-tiap bunga di taman pinggir sungai..
Kutemukan ia pada wujud aslinya yang tanpa warna.

Lalu,
Pagi menanti yang tak kudapati ceritanya yang lalu, yang tak bosan ku dengar.

Kekasih..

Tuhan lah paling setia..

Secuil penantian di waktu malam

Sudah ku lewati senjanya yang berganti malam,
terhitung semenjak kau berikan senyum yang ranum padaku.

Ketika berpapasan..

Dan seminggu kemudian..
Telah kutemukan makna dari penantian panjang
Kan ku sapa dirimu,
Seperti saat ku menyapa bintang pertama di kala senja menghilang,
Seperti yang selalu ku katakan pada “mereka”, indah adanya…

Kini senjanya telah usai, menanti fajar pada pelaminannya..
Tak ku dapati senyum senyum yang lain dari bibirmu..
Menanti dan terus menanti, hingga semesta berkonspirasi untuk mempertemukan kita, dan cinta kita..

Bersemayam dengan damai

Sekilas bayangan terlihat seburuk yang terlihat ketika
melangkahkan kaki kesini…
tak pernah ku sesali
kadang memikirkannya,
tentang aku , kau dan bintang kita..

Sebening embun,
ketika wajahmu tersenyum padaku,
entah
ku merasakannya hingga saat ini..
ironi yang terjadi, kini kisah itu telah usai, bersemayam dengan damai….

Sedikitpun
tak pernah senang
tentang apa yang terjadi dengan kita..
Sekalipun aku tersenyum, aku merasa senyumanku ini seuatu hal yang munafik..

Aku.
saat ini merindukan saat dimana kita bebicara tentang bintang..
Tentang janji itu maaf, aku tak bisa menepatinya untuk sekarang ini..
tentang apa yang ku rasa, aku mengerti..
Aku mencintaimu..