Tuhan dan Cinta

Pada udaraNya sore hari kian mendayu
Meringkas masa senja dalam ringkihan dua waktu.

Betapa,
Tak ku dapati kembali tawa pada tiap-tiap bunga di taman pinggir sungai..
Kutemukan ia pada wujud aslinya yang tanpa warna.

Lalu,
Pagi menanti yang tak kudapati ceritanya yang lalu, yang tak bosan ku dengar.

Kekasih..

Tuhan lah paling setia..

Puisi pengungsi

Saat ku mulai lelah terjaga dari kisah sendu dunia
Menerawang jingganya awan menuju peristirahatan..

Kupikul pilu yang mengikat kaki
Menelisik dari setiap pangkal sendi
Tentang ribuan duka terekam
pun tak satu bagian ku lewat kan..

Masih rapi tetap tersimpan
jentik jemari berpelukan,
duduk berdampingan melamuni esok malam..

Untuknya, sang pemilik senyum harapan
dan senja yang kan datang..
tegap berdiri menantang..
dunia..

Bogor, 30 juni 2012

Tembok Ratapan

siapa yang tahu tentang tembok ratapan?
istilah ini gak jauh beda ama tanda tangan bareng di satu lembar kertas

informasi  tentang awal mula tembok ratapan gak gitu jelas juga soalnya gak cuman denger cerita guru sejarah gua..
pada abad 18, di daratan prancis pernah hidup seorang penyair tak bernama. semasa dia hidup, dia cuman dikenal sebagai gelandangan bukan seniman. hidupnya dihabiskan mengemis di jalanan. di jalanan itu pula dia banyak melihat kebobrokan pemerintah perancis pada saat itu. seperti pajak, perbudakan, perang dan lain-lain.

pada malam hari, si penyair itu menulis semua hal-hal yang dilihatnya pada siang hari dalam bentuk puisi. puisi tersebut ditulisnya pada sebuah tembok di saluran air bawah tanah. tapi bukan sekedar puisi biasa, karena lebih mengarah ke arah sosial, caci maki kepada pemerintahan saat itu. hinaan, depresi, frustasi, dan lain-lain.
bertahun-tahun setelah sang penyair wafat, orang-orang mulai menemukan ribuan bahkan jutaan puisi yang ditulisnya di sepanjang tembok saluran air tersebut. mereka terharu saat membaca puisi-puisi tersebut. dan akhirnya seniman-seniman jalanan prancis mulai melanjutkan apa yang dilakukan si penyair. mereka menulis semua hal yg mereka rasakan sehari-hari ditembok tersebut. Cinta, emosi, depresi, caci maki, sakit hati, benci dan lain-lain.
pernah suatu saat pemerintah prancis ingin menghancurkan tembok tersebut tapi ribuan seniman berusaha menghalanginya. “mungkin bagi kalian, pemerintah perancis itu hanya tulisan caci maki kotor biasa tapi bagi kami itu adalah seni yangg tak ternilai harganya” (orang perancis sangat menjunjung tinggi seni) dan akhirnya niat tersebut pun dibatalkan.

di kutip dari INDONESIA_CRUSH_VF , dan sebuah tulisan dari Bung nekad

versi thread aslinya : ini