Temukan Keabadian Di Senjanya

Kau berkata padaku, ‘temukan dalam senjanya sesuatu yang abadi sayangku’ lalu aku mencoba meraba-raba apa yang kau maksud, aku mencoba mencari, mungkin disini masih tersisa potongan makna yang tersirat dalam kalimatmu, namun waktu mengembalikanku dan berkata, ‘aku belum menemukan keabadian dalam senjanya yang indah, sebagaimana dalam paginya yang memancarkan warna kemerahan di ufuk timur,

duhai sayang, dan aku masih mencari cara disini, berharap menemukan keindahan dalam keabadian, lewat lapar dan dahaga tubuhku, lewat sakit dan sunyinya jalan-jalan pengembaraan,

duhai ini ladang yang siap meneteskan darah, ini kenyataan hidup yang berkelindan dan aku dengan pengembaraanku sedemikian merasakannya, meracau dengan diriku sendiri, dan berkata ‘aku tak tahu, diriku penuh disini dengan beragam dunia, dan tak menemukan pikiranku membaca dengan jernih segala persoalan hidup’

duhai kekasih, dan aku masih berdiri disini dari balik jendela ruangku, mengamati malam yang sebentar lagi datang, mengamati matahari yang ‘kan beralih ke tempat lain, dan meninggalkanku dalam wajah malam yang menghitam, sampai akhirnya sang senja benar-benar menghilang dari hadapan wajah hidup, dan tak kukatakan sepatah kata padanya, kubiarkan itu berlalu dalam sunyi’

lalu hidup menemukanku dalam ladang ladang kebisuan yang mencekam, dan kugauli jiwa-jiwa suci, berharap ilmuNya terhampar di hadapanku,

Duhai Tuhan, kuingin bibirMu menggumamkan keindahan di telingaku, menjawab kenyataan hidup yang kualami . . .

( dikutip dari : rumput rumput tak mau kering [ Arini Hidajati ] )